Senin, 08 Agustus 2011

Menerjemahkan Isi Prasasti Kedudukan Bukit (682 M)

Menerjemahkan Isi Prasasti Kedudukan Bukit (682 M) – Sahabat Pustaka sekalian pada kategori sejarah kali ini, saya akan men-share sedikit mengenai prasasti Kedukan Bukit. Prasasti kedukan bukit merupakan salah satu prasasti Sriwijaya yang paling menarik diperbincangkan oleh para ahli sejarah. Betapa Tidak, karena isinya banyak mengandung kata yang tidak mudah di interpretasikan, bahkan dianggap sebagai kunci pemecahan masalah lokalisasi ibukota Sriwijaya, dasar penentuan berdirinya Sriwijaya, dan perluasan kekuasaannya. Disamping itu merupakan pertulisan atau prasasti berbahasa Indonesia (Melayu) tertua di indonesia yang pernah ditemukan di Indonesia.

Prasasti kedukan Bukit ditemukan di tepi sungai Tatang desa kedukan Bukit, dikaki bukit Siguntang Palembang, bertarikh (berangka tahun) 604 Caka atau 682 masehi, beraksara Pallawa dan berbahasa melayu Kuno. Isinya terdiri dari 10 baris:
  1. Swasti, Cri Cakawarsatita 605 ekudaci cu-
  2. Klapaksa wulan Waicakha Dapunta Hyang naik di
  3. samwau mengalap siddhayatra si saptami cuklapaksa
  4. wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga
  5. Tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan koca
  6. dua ratus cara di samwau dangan jalan sariwu
  7. tlu ratus sapulu dua wanyaknya datang di mukha Uoano
  8. sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan asada
  9. laghu mudita datang marwuat wanua
  10. Criwijaya jayasiddhayatra subniksa
Terjemahannya sebagai berikut:
  1. Selamat, bahagia, Sukses Tahun saka berlalu 406 hari kesebelas
  2. Paro Tarang bulan Waisaka dapunta hyang naik di
  3. perahu melakukan perjalanan pada hari ketujuh paroh terang
  4. bulan jesta Dapunta hyang berangkat dari Minanga
  5. tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
  6. dua ratus koli diperahu dengan berjalan seribu
  7. tigaratus dua belas banyaknya. Datang di mukha upang
  8. sukacita di hari kelima paruh terang bulan asada
  9. lega gembira datang membuat wanua……
  10. perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna (membawa kemakmuran)…..
Dari isi prasasti diatas, jelas menguraikan suatu perjalanan jaya (Jaya siddhayarta) oleh penguasa kerajaan Sriwijaya yang Bergelar Dapunta Hyang (Yang Dipertuan Hyang). Perjalanan jaya ini merupakan suatu ekspedisi militer untuk menaklukkan suatu daerah.

http://pustakasekolah.com/menerjemahkan-isi-prasasti-kedudukan-bukit-682-m.htmlData yang diperoleh dari prasasti Kedukan Bukit ialah:
  • Dapunta Hyang adalah gelar penguasa Kerajaan Sriwijaya;
  • Dapunta Hyang naik Perahu pada tanggal 23 april 682 M, tetapi tidak diketahui dari mana dan mau kemana;
  • Dapunta Hyang Berangkat Dari Minanga Pada tanggal 19 mei 682 M dengan membawa 20.000 lebih tentara yang bersuka cita;
  • Rombongan Dapunta Hyang tiba di Mukha Upang pada tanggal 16 Juni 682 M;
  • Dapunta Hyang membuat “Wanua” (Kota atau rumha/Wihara ?)
Disamping data diatas, cukup banyak tafsiran dari para ahli tentang isi Prasasti Kedukan Bukit, antara lain mengenai kata “Minanga”, “Marwuat wanua”. beberapa tafsiaran itu anatara lain:
Drs. Buchari (ahli epigrafi) menafsirkan bahwa ibukota Sriwijaya pada mulanya di Minanga (Batang Kuantan) di tepi sungai Indragiri, Riau, kemudian dipindahkan ke palembang.
Prof. George Coedes sendiri berpendapat bahwa isi prasasti Kedukan Bukit merupakan pembentukan kerajaaan Sriwijaya. Pendapat ini didukung oleh ahli lainnya, seperti Prof. Poerbatjaraka, dan Prof. Mr. Muhammad Yamin bahakan menegaskan bahwa prasasti kedukan Bukit merupakan “Proklamasi berdirinya Sriwijaya”.
Prof. Poerbatjaraka dalam bukunya “Riwayat indonesia I” mengemukakan bahwa prasasti kedukan Bukit merupakan pendirian kerajaan sriwijaya, dan melokalisasikannya di pertemuan dua sungai, yakni sungan Kampar kanan dan kampar kiri didaerah Minangkabau. pendapat ini bertolak dari kata “Tanwa(r)” yang berarti “temu” kata “minanga tanwa(r) “ disamakan dengan “minanga kampar”. bahkan dikatakan bahwa kata “Minangkabau” berasal dari kata “Minanga tanwa(r)”.
Sementara itu, prof. Dr. Slametmulyana, mengemukakan bahwa kata “minanga tanwan”, berarti “minanga tambahan”. Kata “Tanwan” sama dengan “tambahan”, dimana fonem “w” dalam bahasa melayu Kuno sering berubah menjadi fonem “b” dalam bahasa Indonesia Modern (wulan=bulan; sariwu=seribu; wanyak=banyak; wala=bala/tentara; marwuat=membuat/berbuat). munculnya fonem “b” dalam kata tambahan merupakan gejala yang wajar dalam bahasa Indonesia.
pendapat lain, dikemukakan oleh drs. Buchari, bahwa kata “minanga” merupakan sinonim dari kata “muara atau kuala” dan bentuk lain dari kata “kuala” adalah ‘kuantan”. karena itu Minanga dilokalisasikan di Batang kuantan di tepi sungai Indragiri riau.
Jadi menurut Buchari, pada tahun 682 M  terjadi perpindahan ibukota Sriwijaya dari Minanga (Batang Kuantan) ke palembang.
Kata “marwuat wanua” oleh sebagian ahli sejarah diartikan “membuat kota”. karena itu timbul pendapat bahwa pada tahun 682 Dapunta hyang datang ke palembang untuk mendirikan kerajaan Sriwijaya. pendapat ini tidak meyakinkan, karena pada tahun 671 M sudah berdiri tegak kerajaan Sriwijaya dan dikunjungi oleh I-tsing. Karena itu, kata “marwuat wanua” lebih te[at bila diartikan “membuat rumah atau wihara (rumah peribadatan). Sebab kata “wanua” mempunyai dua arti, yakni “kota atau daerah” dan “rumah atau bangunan”. pembuatan rumah atau bangunan suci (wihara) sebagai manifestasi rasa syukur atas kemenangan yang dicapai adalah suatu hal yang lumrah dalam sejarah indonesia kuno. terlebih lagi dibaca baris kesembilan prasati Kedukan bukit: “laghu mudita datang marwuat wanua” artinya “lega gembira datang membuat rumah wihara”. Kata mudita merupakan salah satu sifat Buddha yang harus dimiliki manusia, disamping sifat metta (cinta). karunia (belas kasihan) dan upekka (kesimbangan spiritual).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar